Senin, 29 Maret 2021

Jumat, 28 Agustus 2020

Makam Tersembunyi


Namaku Hasan bin Novanto. Aku seorang petugas security sebuah pabrik sepatu kulit yang berada dekat dengan sawah. Belakang pabrik ini adalah tanah kosong yang amat luas. Aku telah bekerja di pabrik selama 5 tahun lebih. Sekarang umurku 38 tahun. Sering kudengar cerita-cerita horor dari para pekerja seperti suara orang menangis, arwah karyawan yang bergentanyangan, namun tak ada satupun yang terbukti benar. Menurutku itu semua hanyalah cerita untuk menjahil-jahili saja. Saat aku shift malam tak ada satupun kejanggalan terjadi sehingga itu membuatku makin tidak takut dengan cerita-cerita aneh dari para pekerja.

Suatu hari listrik di pabrik mati sehingga para pekerja dipulangkan lebih awal. Aryo si bos pabrik menghampiriku “Hasan, hari ini listrik di pabrik mati, jadi saya pulangkan pekerja lebih awal.”

“Baik bos.” kataku mengangguk

“Oh iya. Kamu tetap jaga di sini sampai nanti sore. Kalau si Parman dah dateng kamu boleh pulang” kata bos Aryo

“Baik bos. Laksanakan!” kataku hormat

Langit telah berwarna kemerahan. Udara dingin menghembus menusuk kulit. “Aneh sudah jam setengah lima kok belum dateng nih si Parman? Awas ya kalo udah dateng akan kutakut takuti dia dengan cerita yang aneh aneh.” kataku agak kesal.

Tiba-tiba ada bayangan seseorang dari arah barat. Aku kaget tiba-tiba orang itu menghampiriku dan bertanya padaku “Permisi nak, bolehkah kakek masuk dan nyelawat?”

“Nyelawat? Tapi di sini kan tidak ada pemakaman sama sekali?” kataku kaget sekaligus heran

“Tapi nak, kakek masih ingat kalau di sini itu makam ayah kakek.” kata si kakek

“Aduh, nih kakek pikun banget sih! Udah jelas-jelas ini pabrik malah dibilang pemakaman.” gumamku kesal “Kek… Mungkin kakek salah tempat. Ini tuh pabrik bukan pemakaman, kakek bisa lihat sendiri kan.” kataku sambil menunjuk pabrik

“Tapi nak, kakek tidak pikun dan kakek tidak buta, dan kakek masih ingat kalau ini makam ayah kakek.” kata kakek menegaskan

“Keras kepala banget sih nih kakek! Mau gak mau harus diusir nih kakek, biar gak mengganggu kinerja pabrik.” gumamku “Kakek lebih baik pulang saja sekarang sudah malam.” rayuku

“Tapi nak, arwah ayah kakek nanti sedih kalau tidak dikirimi do’a.” kata kakek bersikeras

Setelah 10 aku mencoba merayu kakek itu, aku pun punya ide “Bagaimana kalau kakek berdo’a di sini saja, kan do’a bisa di mana saja.” kataku

“Baiklah nak, kakek di sini saja.” kata kakek pasrah

Akhirnya kakek itu menghamparkan anyaman tikar yang sudah dipikulnya sedari tadi dan ia mulai membaca do’a. Setelah 10 menit kakek itu pun pamit.

“Aneh sekali kakek itu, padahal sudah jelas jelas ini pabrik kok dibilang pemakaman. Yahh untung niat kakek itu baik dan tak terlalu lama berdo’a nya.” gumamku

Tak lama kemudian datanglah Parman dengan sepeda motor bebek miliknya. “Oi darimana saja kau? Aku nunggu kau sampai jenggotan.” kataku kesal

“Wah maaf, aku tadi terjebak macet di perempatan.” katanya sambil memarkir sepedanya

“Haduhh lain kali jangan sampai telat lagi. Kuadukan ke bos kau nanti.” kataku mengancam

“Iya maaf gak akan kuulangi lagi deh.” kata Parman

Akupun mengemas peralatanku, tiba-tiba aku teringat sesuatu “Oh iya. Kunci rumah ketinggalan di wc tadi. Bentar aku ke wc dulu buat ambil kinci.” kataku sambil bergegas ke wc pabrik

“Jangan lama-lama!” seru Parman kepadaku

Aku pun masuk ke wc “Aha itu dia! Untung saja ketemu, kalau hilang bisa gawat nanti.” kataku senang.

Saat aku berjalan keluar, aku melihat seorang pria dengan seragam kerja warna biru “Eh pak udah malem kok belum pulang?” sapaku.

Namun pria itu melewatiku begitu saja seolah tak mendengarku. Tiba-tiba langkahnya terhenti dan menoleh ke arahku “Iya bapak juga hati-hati ya.” kata pria itu dingin.

Ia berjalan ke dalam salah satu ruangan dan menghilang “Aneh sekali orang itu.” kataku sambil keheranan memandang ruangan yang dimasuki pria itu.


Siapa Yang Disana


Hari itu begitu sangat berat baginya, rasa kesal yang mendalam padanya terasa sangat kuat. Rasa amarah yang tidak tau harus diarahkan kemana menbuat ia menjadi seseorang yang menyebalkan. Ia berjalan pulang dari sekolahnya. Rasa panas dan membakar dalam dirinya yang menguap tiba-tiba hilang akibat guyuran hujan yang begitu derasnya. Ia tetap melangkangkan kakinya selangkah demi selangkah sambil sesekali menghadap ke atas untuk merasakan dinginnya air hujan yang membasahi seluruh wajahnya, Ia tak peduli dengan apa yang terjadi ketika badannya basah kuyup. Ia hanya memikirkan bagaimana tenangnya dalam keadaan dingin seperti ini.

Tak terasa ia berjalan begitu jauh, ia kebingunan karena jalan tanpa tentu arah, ternyata ia telah salah jalan pulang ke rumah. Ia memandang ke sekeliling yang terasa sangat aneh baginya suasana yang begitu menyebalkan menurutnya, keramaian yang sangat berisik membuat suasana hatinya kembali menjadi tak tentu.

Ia melihat ke tangannya untuk melihat jam, waktu menunjukan pukul 13.40. Tak terasa ia telah berjalan selama 40 menit. Tidak ada rasa lelah di wajahnya karena yang ada dalam pikirannya hanya rasa kesal yang tak henti-hentinya dari tadi.

Ia terus bertanya dalam hatinya

Kenapa bisa terjadi

Apa yang salah?

Sudahlah…

Ia berjalan dengan perlahan memperhatikan keaadan, banyak orang lalu lalang tanpa henti, ada yang berteriak-teriak “lima perak dapat 3, lima perak dapat 3…” ada yang tawar menawar dengan bercanda, ada kepulan asap yang beragam baunya, Ia baru sadar ia sedang berada di pasar. Rintik hujan masih belum usai, langit masih belum lega begitupun ia. Jalanan yang sangat kumuh wajarnya pasar tradisional. Keadaan yang basah kuyup menyebabkan ia merasa sangat dingin, ia pun dengan langkah yang cepat menghampiri seorang penjual.

“permisi Bu, ini namanya pasar apa ya?” dengan wajah yang terpksa tersenyum

“pasar *****” dengan suara yang sangat lembut

Ia pun kaget ternyata itu adalah pasar yang tak pernah ia tau ada di daerahnya.

“terima kasih ya bu” ia membalas dengan tersenyum kecil

Ia pun makin bingung karena pakaian yang dipakai orang-orang terasa sangat aneh, tak ada yang memakai alas kaki. Ia pun baru sadar kalau ia berada dalam keanehan.

Semua laki-laki hanya bertelanjang dada dengan hanya mamakai celana pendek, para perempuan pun hanya memakai kain yang menutupi bagian atas dan bawahnya. Ia pun terasa sangat aneh ia berlarian kesana kemari dan tidak melihat rumah-rumah dari tembok seperti biasanya, jauh mata memandang ia hanya melihat tampak pohon-pohon tinggi.

Ia mencoba memejamkan mata, bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

Ini dimana? apa yang sedang terjadi padaku?

Apa aku sudah mati? kenapa secepat ini? ah itu tidak penting

Aku harus berbuat apa? aku harus alasan ke mama apa? ini sudah sangat lama, mama pasti kuatir.

Semua yang ia pikirnya seketika itu hilang karena ada seseorang yang menepuk bahunuya

“hei, bajumu kok aneh?`”

Ia pun tersentak karena kaget “apa? kamu siapa? ini dimana?”

“itu apa yang sedang kamu bawa di punggungmu? bentuknya bukan seperti pedang ataupun cangkul?”

“kamu siapa? sebenarnya apa yang sedang terjadi? ini dimana?” dengan nada sedikit tinggi dan kesal

“itu yang kamu pakai di kakimu apa? kok bagus, aku belom pernah melihatnya”

“sudahlah berhenti melihatku” ia pun bernada semakin tinggi

“oh iya maaf, kamu tadi nanya apa?” dia berbicara dengan memakan sesuatu


Kusimpan Kau Dalam Doaku


 

Yang kuingat dari dirinya adalah wangi bunga disela rintik hujan. Senyum secerah kelopak bunga basah, dan suara yang kudengar bagai senandung gerimis lemah, aku ingat dia dan selalu mengingatnya bersama jejak langkah yang semakin memudar.

Matahari telah terbit dari ufuk timur, dingin embun pagi hari, kicauan burung-burung seolah-olah ikut bertasbih atas keindahan Ilahi. Perkenalkan namaku Adinda Zahra Maulida, aku biasa dipangil Dinda, aku duduk di bangku kelas 12 jurusan bahasa. Sejak kecil aku sudah dibekali ilmu agama oleh ibu dan ayahku. Harapan mereka agar aku tumbuh menjadi pribadi yang religius. Hingga sekarang aku selalu menjaga amanat dari ibu dan ayah. Mungkin hanya aku dari sekian banyak remaja sekarang yang belum pernah merasakan apa itu pacaran. Hingga tak jarang teman-temanku mencemoohku dengan mengatakan “jelas gak pernah pacaran mana ada yang mau sama gadis tirai berjalan” cukup jelas bukan apa itu tirai berjalan. Apa ada yang salah dengan penampilanku ini. Kelak akan tiba zaman ketika hal yang baik akan dianggap aneh, dan hal yang buruk akan dianggap biasa. Seperti sekarang aku dinggap aneh dengan pakaian syar’i, hijabku memang panjang menutupi pusar. Bukankah kita harus mengikuti apa yang Allah perintahkan.

Hingga suatu hari imanku yang saat itu memang masih mudah goyah dan gampang terpengaruh perkataan orang. Saat itu aku sedang mewakili rapat organisasi remaja NU aku bertemu ikhwan yang bernama Akbar. Banyak akhwat yang mengaguminya termasuk aku. Ia kujadikan semangatku untuk terus hadir saat kajian, yang kukagumi darinya adalah bagaimana saat ia benar-benar menjaga pandangan terhadap yang bukan mahram. Setiap kajian ia yang menjadi pembuka dengan membaca Al Qur’an. Kudengar dari teman-temanku ia seorang hafizd. Awalnya rasa ini hanya sebatas kagum tetapi lama-kelamaan rasa ini berubah setelah ia menjadi menjadi pembimbingku. Kami menjadi sering bertemu untuk saling sharing dan membahas islam lebih dalam.

Suatu malam aku mendapat telepon dari Akbar.

“assalamualaikum ukhti”

“waalaikumsalam, ada apa ya kak?”

“tidak apa-apa, aku hanya ingin bertanya sesuatu denganmu boleh?”

“boleh saja kak.”

“Alhamdulillah jika baik sambutanmu, bisakah besok setelah kajian aku ingin berbicara denganmu?”

“bisa saja kak, kebetulan aku besok mau ke perpustakaan ingin mencari referensi tentang kajian islam bisakah kak Akbar membantuku mencari buku?”

“kebetulan sekali aku juga ingin mengajakmu berbicara di perpustakaan besok, baiklah insyaallah aku bisa membantumu, kalau begitu aku tutup ya sampai ketemu besok. wassalamualaikum”

“iya kak waalaikumsalam.”

Betapa saat itu hatiku begitu senang, tak pernah aku merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Rasanya tak sabar untuk bertemu dengannya besok.

Besok pun tiba, usai shalat maghrib aku berjalan ke perpustakaan dekat dengan masjid tempatku kajian. Aku melihat kak Akbar tengah duduk sedang membaca buku, kuhampiri dia “assalamualaikum kak maaf membuat kakak menunggu.”

“waalaikumsalam ukhti tak apa aku pun baru sampai.”

“apa yang ingin kakak tanyakan denganku, insyaallah aku bisa menjawab.”

“apakah ukhti dekat dengan Aisyah khairunisa?”

“oh Aisyah iya kak aku memang dekat dengan Aisyah.”

“Alhamdulillah jadi begini ukhti rasanya kurang sopan bila menanyakan hal ini kepada ukhti tapi saya tak cukup berani untuk menyampaikan ini kepada Aisyah langsung. Saya mengagumi Aisyah, saya kagum pada kepribadiannya, akhlaknya dan kepandaiannya. Saya yang tak ada apa-apanya ini tak berani menyatakan ini kepada Aisyah untuk sekarang, Insyaallah saya sedang berusaha memantaskan diri saya, saya akan menempuh pendidikan di Kairo selama 4 tahun, Insyaallah atas izin Allah saya akan kembali lagi kesini, tolong berikan surat ini untuk Aisyah katakan ini dari saya, sampaikan maaf saya yang bila nanti perilaku saya ini menyakiti hatinya.”


Cinta Dalam Diam


Hari ini hari yang cerah hari dimana kumulai aktivitas kuliahku dengan penuh bahagia. Aku berjalan sembari ditemani oleh mentari yang tersenyum lebar dan embun pagi yang begitu menyejukkan. Terlihat seseorang perempuan melambaikan tangan kepadaku, entah itu siapa ia pun menghampiriku dan wajah ini tak asing bagi diriku.

“Sri?” kataku dengan wajah kaget.

Sri adalah sahabat kecilku kami bersahabat mulai dari kecil namun, kami terpisah sejak lulus dari SMA karena ia dan keluarganya pundah ke jakarta.

“Sri”

“Iya aku Sri”

“Subhanallah kamu sekarang tambah cantik aja, sampai-sampai aku sempat nggak ngenali kamu loh”

“Andil kamu itu ya selalu aja lupa sama aku”

“Oh ya kapan kamu datang dari Jakarta terus kamu kesini ada kepentingan apa?’

“Sejak sepekan yang lalu dan aku kesini karena aku kuliah sekarang disini”

“Wah itu kabar bagus kamu ambil jurusan apa disini”

“Jurusan bahasa inggris dan tepatnya lagi aku sekelas dengan kamu”

“Betul, wah aku jadi semakin bersemangat nih untuk kuliah”

Hari-hariku semakin bahagia karena sahabat kecilku telah bersama ku kembali dan anehnya lagi aku selalu saja sekelompok dengannya.

“Oh ya Andil kita kan ada tugas membuat karya ilmiah, bagaimana kalau besok kita kerjakan di tempat biasa kita ngumpul”

“Baiklah, besok ya”

Pagi yang tampak ceria, kicauan burung yang merdu dan entah mengapa aku sangat bersemangat pagi ini. Tiba-tiba terdengar bunyi handphoneku

Tring tring tring

“Assalamualaikum”

“Waalaikumussalam, Andil kamu udah ada dimana?”

“Astagfirullah, maaf aku lupa”

“Ya ampun ini anak cepat kesini”

“Oke assalamualaikum”

“Waalaikumussalam”

Beberapa menit kemudian aku telah sampai di tempat kami biasa berkumpul namun tiba-tiba aku mendengar lantunan ayat suci al-qur’an dengan suara yang sangat merdu, hatiku bertanya-tanya siapakah seseorang itu.

“Assalamualaikum”

“Waalaikumussalam”

Spontan aku kaget, melihat seseorang ikhwan yang sedang ada di depanku, jantungku berdetuk kencang, aku malu kutundukan pandanganku darinya.

“Silahkan duduk Ukhty”

“Maaf sebelumnya Sri mana ya?”

“Sri ke belakang dulu ukhty lagi buat minum”

Sri pun datang dengan Asma membawa minuman yang telah mereka buat.

“Dari mana aja neng”

“Maaf soalnya tadi jalan lagi macet”

“Eh Andil ini kenalin sepupu aku namanya Rahman”

“Aku permisi pamit dulu ya” Rahman pun pergi karena ada urusan yang begitu mendesak.

“Eh Asma ternyata kamu juga ada disini ya”

“Iya, ada seseorang yang mengundangku untuk kesini”

“Oh gitu” mungkin Sri.

Asma adalah teman sekelas kami dia anaknya pintar, cantik dan juga shaleha.

“Bagaimana kalau kita kerja sekarang agar nanti pulangnya enggak kesorean”

“Oke”


Dalam Doa Ada Cinta

 

Setelah aku mengemas perlengkapan untuk dibawa ke tempat pengabdian. Mengabdikan diri kepada masyarakat selama 40 hari yang akan datang, di salah satu Desa yang berada di Kabupten Pandeglang. Untuk memenuhi tugas akhir dari pihak kampus. Aku duduk sejenak beristirahat, meluruskan kaki di atas lantai berkeramik putih, menyandarkan punggung ke tembok yang dilapisi cat berwarna biru. Kusapu pandanganku perlahan pada ruang kontrakan yang berukuran 4×5 meter. Khawatir akan ada perlengkapan yang tertinggal. Pandanganku terhenti. Tertuju pada buku yang masih berserakkan di atas dan bawah meja belajar berbentuk kotak yang terbuat dari kayu.

Aku jadi ingat! Aku harus bawa beberapa buku bacaan untuk menemani jika nanti merasakan kepenatan. Sebab, katanya dengan membaca buku kita bisa menjelajahi dunia. Maka walaupun 40 hari kedepan aku hanya berkutat di tempat pengabdian. Tapi, dalam membaca aku bisa berkeliaran kemanapun aku mau.

Aku angkat punggungku. Melipatkan kaki dan berjalan jongkok menuju meja. Tanganku mengambil buku yang berserakkan. Mulai kutumpuk dan memasukannya ke jejeran rak buku. Jumlah bukunya memang tidak sebanyak koleksi buku Naila, temanku si kutu buku yang berkacamata tebal. Aku mulai mencari buku yang cocok untuk menemaniku. Yang jelas jenis bukunya harus fiksi. Sebab, yang nonfiksi terlalu serius jika menemani dalam kepenatanku nanti. Ah! Aku sudah terhipnotis kakak tingkatan yang mengatakan bahwa nanti akan terasa penat, dan rasanya ingin pulang saja. Benar begitu? Entahlah…

Malas yang menemaniku beberapa bulan ini sudah membuat bukuku tidak terurus. Terpaksa mau tidak mau selain merapihkan buku yang berserakan aku harus merapihkan buku yang terlihat tidak beraturan di dalam rak buku itu. Belum juga aku menemukan buku yang cocok untuk kubawa. Aku menghentikkan gerakan tanganku, melihat buku dengan judul “Tuhan Izinkan Aku Pacaran” karya Fikri Habibullah M. buku yang bercover biru dengan gambar seorang laki-laki dan perempuan berjilbab yang saling membelakangi, berada di dekat buku diaryku semasa SMA. Hatiku berbungs-bunga. Bibirku mengembang membuat kedua pipiku yang tembem membentuk lingkaran, berbentuk bola bekel. Buku itu mengingatkanku kembali pada 5 tahun lalu.

Adzan subuh telah dikumandangkan pada setiap masjid di daerah rumahku. Diiringi dengan suara kokokan ayam jago milik bapak dan juga tetangga yang saling bersahutan. Aku sudah rapih dengan seragam putih-biru, sepatu hitam polos dengan kaos kaki sebelah kanan yang panjang berwarna putih dan sebelah kiri yang pendek berwarna hitam. Walaupun begitu, sepanjang jalan aku tidak terlalu malu. Sebab aku menggunakan rok panjang. Jadi, bisa bisa tertutupi, jilbab putih berpita merah di sebelah kanan, tas kotak yang terbuat dari kardus berisi alat tulis, 1 buah roti yang diberi nama “Roti Buaya,” 1 botol aqua yang diberi nama “Mata air gunung,” 1 bungkus nasi berisi Tahu Tempe dan Telor dan dua papan nama terbuat dari kertas karton berwarna kuning yang bertuliskan, “Alina Safitri” dan satunya lagi nama ilmuwan, “Alexander Graham Bell,” semua itu perintah dari panitia beberapa hari lalu saat tehnical meeting. Saat itu Masa Orientasi Sekolah.

Dari sekian banyak panitia yang mengurusi peserta MOS. Aku merasakan hal yang berbeda dari salah satu panitia yang terlihat selalu menyendiri. Selama empat hari mengikuti MOS, aku lihat tangan dia selalu membawa buku yang setiap harinya berbeda-beda. Aku mengagumi kebiasaan dia! Tapi, aku lupa tidak mengingat namanya saat awal perkenalan. Aku tanya temanku, tak ada yang tahu. Mungkin karena dia jarang menampakkan dirinya.

Aku mengambil kesempatan dalam kesempitan! Saat diakhir kegiatan MOS panitia memberikan tugas untuk mendapatkan tanda tangan seluruh panitia. Riuh suara teman-teman kelabakan meminta tanda tangan dengan berbagai macam cara. Sebab, panitia sok jual mahal. Aku melangkahkan kaki menuju dia yang sedang duduk di bawah pohon mangga, pinggir lapangan. Pandangannya tertunduk, fokus tertuju pada buku bacaan yang diletakkan di kedua pahanya.


Kulepas Kamu dengan Bissmillah


Terang saja, aku ini sedang jatuh cinta.

Cinta dengan seorang gadis cantik, yang kini tumbuh dewasa. Tumbuh dengan mempesona. Dan tumbuh indah dengan agamanya. Dia Laila. Laila Syafa Nafeeza. Cantik, kan, namanya? Iya. Sama. Orangnya juga begitu. Lebih malah.

Kami udah bareng-bareng dari sejak kami masih kecil.

Karena terlalu sering bersama dan saling mengisi kekosongan waktu satu sama lain, aku sama dia pun semakin dekat. Saling muncul rasa perhatian. Muncul rasa takut kehilangan. Takut kalau berpisah. Muncul rasa nggak ingin jauh-jauhan. Muncul rasa kangen meski hanya sebentar saja tak ber-sua. Semua ada.

Aku yakin, aku menyukainya.

Dan aku nggak mau memendam itu terlalu lama.

Kemarin, aku sudah mengungkapan apa isi hatiku sama dia. Dia pun sama. Ternyata, dia juga punya perasaan yang sama dengan apa yang aku rasa. Tahu kan, pastinya, gimana senangnya aku sekarang?

Iya, seneeeeeeeng banget.

Tapi aku sama dia punya prinsip yang sama. Aku nggak mau pacaran dan dia nggak mau dipacarin. Aku maunya langsung halal, dan dia juga maunya dihalalin.

Hanya saja, untuk per-detik ini aku belum bisa meminang dia. Aku masih menjalani rutinitasku sebagai Santri di salah satu pondok pesantren yang ada di Jombang. Iya. Namanya Pondok Pesantren Tebu Ireng. Pernah dengar? Atau ada yang pernah mondok di sana mungkin?

Hem, sebenarnya bukan karena itu saja aku belum mau meminangnya. Alasan kedua adalah: orangtuaku belum begitu setuju jika aku menyukai dan ingin serius dengannya. Orangtuaku maunya, aku tuh, dekat dengan wanita yang jamil dan shalihah. Menurut pandangan orangtuaku saat ini, dia belumlah cukup dibilang shalihah.

Tapi ada manfaatnya juga aku mondok di Tebu Ireng ini. Aku bisa berbagi ilmu agama sama dia. Aku bisa sedikit demi sedikit mengajak dia untuk menjadi lebih baik lagi. Dan alhamdulillah.. dia benar-benar menjadi gadis yang aku sendiri saja tak bisa berkedip melihat ketaatannya. Alhamdulillah dia menjadi gadis yang mendekati sempurna. Benar-benar jauh lebih baik dari sebelumnya.

Subhanallah, Laila… Semoga Allah selalu melindungimu, ya.. kamu wanita yang luar biasa…

3 tahun sudah aku menjadi Santri di Tebu Ireng ini. Dan 3 tahun juga lamanya aku semakin dekat dengan Laila. Ada banyak sekali perubahan di diri aku dan Laila. Darinya, dia sekarang memakai cadar. Semakin membuatku ingin sekali segera meminangnya. Semakin membuatku takut kalau dia dimiliki orang lain.

Perubahanku, insyaallah aku bisa membimbing calon istriku kelak dengan ilmu yang aku miliki sekarang ini.

Dan aku sekarang fokus untuk memikirkan hal itu. Hal bagaimana caranya aku bisa segera menjadi pembimbing rumah tangga antara aku dengan Laila.

Aku mulai membayang-bayangkan hal yang belum pasti itu terjadi. Aku juga selalu merencanakan khayalan-khayalan konyol kelak jika aku benar-benar bisa memiliki Laila.