Cinta Dalam Doa


Seandainya aku bisa mengulang waktu, aku ingin memperbaiki kesalahanku. Andai saat itu aku berkata jujur, kupastikan rasa ini takkan ada. Sudah terlalu jauh aku berharap padanya. 4 tahun sudah berlalu, tapi rasa ini masih terikat padanya. Padahal tidak banyak kenangan yang dia berikan, melainkan hanyalah kekecewaan. Tapi mengapa seiring berjalannya waktu, aku masih belum bisa melupakannya. Aku sendiri bingung dengan rasaku, apa yang istimewa dari dirinya…?.

Semua berawal dari ketidaksengajaan. Dimana saat itu, aku berbohong dalam ketidaktahuanku.

“Zahra, gimana..?”. ucap salsa.

“Apanya yang gimana..?”. jawabku membuat salsa kesal.

“Ihh… Zahra..” ucap salsa sambil mecubit pinggangku. Aku langsung meringis kesakitan. “Itu laki laki yang bernama Rendra.. ganteng nggak..?”. lanjutnya.

“Hmm.. biasa aja sih..”. jawabku ala kadarnya. Sebenarnya aku bohong berkata seperti itu. Tapi, kalo aku berkata Rendra ganteng, Salsa pasti mikir kalo aku suka sama dia. Jadi, aku memilih bohong. Tapi setelahnya aku berucap istighfar kok dalam hati… “Masih ganteng yang duduk di sebelahnya..”. lanjutku refleks. Dan akhirnya, aku melampiaskannya kepada laki laki yang duduk di sebelahnya. dan lebih parahnya, aku belum mengetahui siapa pria itu. Maklum saat itu masih tahun ajaran baru. Jadi aku belum mengenal satu persatu teman kelasku.

“Hah… laki laki setampan Rendra kamu bilang biasa aja”. Jawab Salsa dengan tatapan tidak percaya.

“Tapi tunggu tunggu… tadi kamu bilang, masih ganteng yang di sebelahnya..?”. lanjutnya. Aku hanya diam sembari menunggu dia melanjutkan ucapannya.

“Pria itu kan Azka! ciyee… Zahra. Kamu suka yah sama dia..?”. lanjutnya yang membuatku melongo tak percaya. Tapi, akhirnya aku tahu pria itu bernama Azka.

“Ihh… apaan sih.. masak bilang ganteng aja dibilang suka”. Ucapku ketus. Tuh kan.. benar tebakanku. Salsa pasti akan mengatakan hal itu.

“Ciyee.. udah nggak usah malu. Bilang aja kalo suka”. Ucap Salsa menggodaku.

“Tidak!! Aku tidak suka dengannya”. Jawabku geram.

Dan setelah hari itu, Salsa mengatakan kepada sebagian temanku, kalo aku suka dengan Azka. Dan akhirnya berita itu menyebar ke seisi kelas. Awalnya aku sangat risih, karena sering dipojokkan dengan Azka. Tapi seiring berjalannya waktu, entah mengapa aku menjadi nyaman. Bukan karena ucapan anak anak tentang aku dan Azka, melainkan karena sikapnya. Sikapnya yang selalu diam, dan tenang. Apalagi saat aku mengetahui bahwa Azka adalah santri pesantren dan satu yayasan dengan pesantrenku. Dan aku juga mendengar dari beberapa temanku, kalo Azka sering melakukan puasa senin kamis. Ya Rabb.. aku tidak tahu kapan rasa ini mulai tumbuh.

Waktu demi waktu berlalu. Kukira rasa itu hanya sesaat. Namun, semakin lama aku mengenalnya. Aku melihat banyak kebaikan dari dirinya. Dan rasaku juga semakin dalam. Tetapi, Azka tak mengetahui akan hal itu. Aku mengaguminya bukan karena tampannya, bukan karena hartanya, aku mengaguminya karena imannya, ilmunya, dan sikap rendah hatinya. Dan tak dapat kupungkiri aku juga dibuat gila olehnya. Aku selalu menyematkan namanya di dalam setiap doaku. Berharap bahwa nantinya Allah mentakdirkan Azka menjadi imamku. Aku berubah karenanya, aku juga pernah menangis karenanya, disaat aku mengetahui bahwa dia tidak ada rasa untukku. Dan yang lebih menyesakkan, ketika aku mengetahui kalo dia menaruh hati pada sahabatku sendiri. walaupun begitu, rasaku tak berkurang sedikitpun. Aku malah tetap berharap padanya. Walau aku tahu memilikinya hanyalah sebuah angan. Hingga aku sadar, bahwa apa yang selama ini aku lakukan, semua itu adalah SALAH. Aku hidup bukan untuk memikirkannya, membayangkannya, atau mencintainya. Aku telah membuat Tuhanku cemburu. Aku telah menduakan-Nya. Aku merasa bodoh dengan diriku sendiri. Mengapa aku terlalu dalam menaruh hati padanya.

Ya Rabb.. aku titipkan rindu ini pada-Mu, untuk satu nama yang tertulis di hati. Karena aku tidak kuat menanggungnya, menanggung rindu yang tidak halal untuknya. Ya Rabb.. maafkan hambamu ini. Hapuskan namanya di hatiku. Jika itu membuatku melupakan-Mu. Ya Rabb.. engkaulah penulis skenario terbaik. Aku yakin engkau pasti akan memberikan jalan yang terbaik untukku.

Dan untuknya, aku selalu berdoa semoga dia selalu berada dalam perlindungan Allah. Dan juga aku berterima kasih padanya, karena dengan kehadirannya, aku bisa berubah ke arah yang lebih baik. Meski dia tidak menyadarinya. Semoga Allah membalas kebaikanmu. Amin…


Komentar