Jumat, 28 Agustus 2020

Dalam Doa Ada Cinta

 

Setelah aku mengemas perlengkapan untuk dibawa ke tempat pengabdian. Mengabdikan diri kepada masyarakat selama 40 hari yang akan datang, di salah satu Desa yang berada di Kabupten Pandeglang. Untuk memenuhi tugas akhir dari pihak kampus. Aku duduk sejenak beristirahat, meluruskan kaki di atas lantai berkeramik putih, menyandarkan punggung ke tembok yang dilapisi cat berwarna biru. Kusapu pandanganku perlahan pada ruang kontrakan yang berukuran 4×5 meter. Khawatir akan ada perlengkapan yang tertinggal. Pandanganku terhenti. Tertuju pada buku yang masih berserakkan di atas dan bawah meja belajar berbentuk kotak yang terbuat dari kayu.

Aku jadi ingat! Aku harus bawa beberapa buku bacaan untuk menemani jika nanti merasakan kepenatan. Sebab, katanya dengan membaca buku kita bisa menjelajahi dunia. Maka walaupun 40 hari kedepan aku hanya berkutat di tempat pengabdian. Tapi, dalam membaca aku bisa berkeliaran kemanapun aku mau.

Aku angkat punggungku. Melipatkan kaki dan berjalan jongkok menuju meja. Tanganku mengambil buku yang berserakkan. Mulai kutumpuk dan memasukannya ke jejeran rak buku. Jumlah bukunya memang tidak sebanyak koleksi buku Naila, temanku si kutu buku yang berkacamata tebal. Aku mulai mencari buku yang cocok untuk menemaniku. Yang jelas jenis bukunya harus fiksi. Sebab, yang nonfiksi terlalu serius jika menemani dalam kepenatanku nanti. Ah! Aku sudah terhipnotis kakak tingkatan yang mengatakan bahwa nanti akan terasa penat, dan rasanya ingin pulang saja. Benar begitu? Entahlah…

Malas yang menemaniku beberapa bulan ini sudah membuat bukuku tidak terurus. Terpaksa mau tidak mau selain merapihkan buku yang berserakan aku harus merapihkan buku yang terlihat tidak beraturan di dalam rak buku itu. Belum juga aku menemukan buku yang cocok untuk kubawa. Aku menghentikkan gerakan tanganku, melihat buku dengan judul “Tuhan Izinkan Aku Pacaran” karya Fikri Habibullah M. buku yang bercover biru dengan gambar seorang laki-laki dan perempuan berjilbab yang saling membelakangi, berada di dekat buku diaryku semasa SMA. Hatiku berbungs-bunga. Bibirku mengembang membuat kedua pipiku yang tembem membentuk lingkaran, berbentuk bola bekel. Buku itu mengingatkanku kembali pada 5 tahun lalu.

Adzan subuh telah dikumandangkan pada setiap masjid di daerah rumahku. Diiringi dengan suara kokokan ayam jago milik bapak dan juga tetangga yang saling bersahutan. Aku sudah rapih dengan seragam putih-biru, sepatu hitam polos dengan kaos kaki sebelah kanan yang panjang berwarna putih dan sebelah kiri yang pendek berwarna hitam. Walaupun begitu, sepanjang jalan aku tidak terlalu malu. Sebab aku menggunakan rok panjang. Jadi, bisa bisa tertutupi, jilbab putih berpita merah di sebelah kanan, tas kotak yang terbuat dari kardus berisi alat tulis, 1 buah roti yang diberi nama “Roti Buaya,” 1 botol aqua yang diberi nama “Mata air gunung,” 1 bungkus nasi berisi Tahu Tempe dan Telor dan dua papan nama terbuat dari kertas karton berwarna kuning yang bertuliskan, “Alina Safitri” dan satunya lagi nama ilmuwan, “Alexander Graham Bell,” semua itu perintah dari panitia beberapa hari lalu saat tehnical meeting. Saat itu Masa Orientasi Sekolah.

Dari sekian banyak panitia yang mengurusi peserta MOS. Aku merasakan hal yang berbeda dari salah satu panitia yang terlihat selalu menyendiri. Selama empat hari mengikuti MOS, aku lihat tangan dia selalu membawa buku yang setiap harinya berbeda-beda. Aku mengagumi kebiasaan dia! Tapi, aku lupa tidak mengingat namanya saat awal perkenalan. Aku tanya temanku, tak ada yang tahu. Mungkin karena dia jarang menampakkan dirinya.

Aku mengambil kesempatan dalam kesempitan! Saat diakhir kegiatan MOS panitia memberikan tugas untuk mendapatkan tanda tangan seluruh panitia. Riuh suara teman-teman kelabakan meminta tanda tangan dengan berbagai macam cara. Sebab, panitia sok jual mahal. Aku melangkahkan kaki menuju dia yang sedang duduk di bawah pohon mangga, pinggir lapangan. Pandangannya tertunduk, fokus tertuju pada buku bacaan yang diletakkan di kedua pahanya.


0 komentar:

Posting Komentar