Jumat, 28 Agustus 2020

Keindahan Cinta Aisyah

 

Angin menghembus membelai wajah lugu Aisyah, seorang gadis cantik berparas lembut sekaligus seorang santri di salah satu pesantren terkenal di jawa timur. Entah mengapa pagi ini udara begitu dingin sehingga banyak santri yang masih terlelap dalam pelukan hangat selimut mereka, terkecuali Aisyah yang sudah sejak tadi sudah berada di dalam musholla, akhirnya sholat shubuh dilaksanakan dengan sebagian dari santri saja.

Setelah matahari mulai menampakkan dirinya aktivitas pun dilaksanakn seperti biasa. Zahra seorang santri yang satu kamar dengan Aisyah menghampiri Aisyah yang sedang mengaji di dalam musholla “hai ukhti, kenapa tadi kamu nggak bangunin aku sih?” dengan sedikit nada kesal ia lontarkan, lalu aisyah dengan lembutnya menjawab “sudah aku bangunkan dirimu tapi kamu malah menarik kembali selimutmu sahabatku” dengan raut wajah merah Zahra menundukkan wajahnya “maafkan aku Aisyah” Aisyah hanya tersenyum lembut dan berakata, “sudahlah ukhti sekarang bergegaslah mandi, habis ini kegiatan kita akan segera dimulai” Zahra berbalik badan dan bergegas pergi.

Suatu hari Aisyah yang sebagai satu pengurus di pesantren itu dipanggil oleh ketua pengurus ternyata pesantren berniat mengadakan bazar tahunan yang diselenggrakan 2 minggu kedepan. Dan ketua pengurus menunjuk Aisyah sebagai ketua panitia bazar tersebut. Mendengar hal itu aisyah merasa kaget dan awalnya ia menolak tapi setelah diyakinkan oleh ketua pengurus ia akhirnya menyanggupi amanah tersebut.

Karena ia menjadi ketua panitia akhirnya dia sering berkomunikasi oleh pesantren putra, karena ia sering bolak balik ke pesantren putra maka tak heran jika akhirnya banyak santri putra yang sedikit demi sedikit mengenal sosok Aisyah, tak terkecuali adam seorang santri putra yang juga menuntut ilmu di pesantren itu. Rupanya adam juga seorang pengurus kepanitiaan bazar, dia ditunjuk sebagai sekertaris panitia bazar.

Pada saat bazar akan segera dimulai 4 hari lagi ada sebuah masalah pada pembelian perlengkapan bazar putri, hal ini membuat Aisyah sebagai ketua panitia putri merasa cemas akan masalah ini. Karena setiap pembelian keluar arena pesantren diwakili oleh panitia putra, Akhirnya Aisyah meminta bukti pembelian barang kepada Adam sebagai sekertaris panitia bazar, memang tidak ada yang janggal dalam bukti pembelian tersebut tapi masalah uang yang hilang Rp. 200.000 itu membuat Aisyah bingung. Karena Aisyah merasa takut, ia akhirnya melapor pada ketua pengurus, dengan nada terbata bata ia menghadap kepada ketua pengurus.

Setelah menjelaskan masalah yang terjadi akhirnya pengurus menjelaskan bahwa sebenarnya uang itu ada pada dirinya, uang itu ia minta karena ada bahan tambahan yang harus ia beli sebagai perlengkapan bazar. Mendengar hal itu Aisyah bernapas lega. Sejak kejadian itu Aisyah dan adam semakin sering bertemu karena Aisyah takut kejadian itu terulang lagi. Seiring berjalannya waktu Adam dan Aisyah mempunyai rasa yang menurut mereka itu tidak pantas ia punya sebagai seorang santri, namun tak bisa dipungkiri bahwa mereka memang saling menyukai. Sejak saat itu mereka diam-diam saling berbalasan surat.

Suatu hari orangtua Aisyah datang mengunjunginya, sontak Aisyah merasa kaget soalnya setiap kali ia akan dijenguk pasti orangtuanya menghubungi dahulu lewat telepon pesantren. Rasa janggal yang dirasakan Aisyah itu ternyata benar, maksud kedatangan orangtuanya ke sini adalah untuk menjodohkan Aisyah dengan seorang pria kenalan ayahnya, mendengar hal itu seakan hatinya sesak dan perlahan air mata menyapa halus pipinya. Setelah orangtua Aisyah pulang ia menceritakan semuanya kepada Zahra sahabatnya, Zahra tidak bisa berbuat apa-apa, karena memang ini menyangkut masalah orangtua. Zahra hanya bisa menenangkan kekacauan hati sahabatnya itu.


0 komentar:

Posting Komentar