Jumat, 28 Agustus 2020

Patah Hati


Kukira patah hati itu adalah hal yang tidak akan kualami. Kupikir patah hati adalah sebuah perasaan yang tidak mungkin kurasakan. Dengan bangganya aku berkata pada diriku sendiri kalau aku tidak akan pernah patah hati. Namun kenyataannya berbeda.

Patah hati. Saat itu menghampiriku. Baru-baru ini kurasakan yang namanya kepedihan karena patah hati. Bukan karena cinta. Tapi suka. Lebih menyakitkan dari apa yang kupikirkan.

Awalnya ingin kubuat sebuah deskripsi mengenai seseorang yang amat membuatku suka dan membuatku bisa terobsesi. Aku tidak membayangkan dia untuk menjadi pacarku namun untuk menjadi teman hidupku yang mengisi hari-hari dan menghabiskan waktunya denganku, namun semua khayalan itu lenyap sudah oleh sebuah hal yang sangat menyadarkanku.

Aku mengenalnya, dan hanya mengenalnya. Dia mengenalku dan ya memang begitu. Tapi sebatas kenal. Dan aku hanya seorang pengagum rahasia yang jarang dilihat. Bahkan tidak pernah terlintas sekalipun dalam pikirannya.

“sudah buka?” pertanyaannya waktu itu masih kuingat. Saat bulan ramadhan, dia menanyaiku begitu dan lalu bagaimana perasaanku. Senangkah? Tidak. Semua biasa saja. Tapi seiring waktu berlalu, lama-lama dia melekat dalam pikiranku, dia amat sangat gagah. Dia memiliki sejuta pesona. Perempuan mana yang tidak terpesona jika melihatnya. Sungguh, dia adalah seorang laki-laki idaman perempuan.

Ku memungkiri bahwa aku suka padanya, setiap orang yang bertanya padaku tentang bagaimana perasaanku padanya dan dengan gamblang kujawab tidak, karena aku malu. Namun jauh dalam lubuk hati aku berkata bahwa aku sangat amat menyukainya. Kutuliskan perasaanku padanya melalui lembar demi lembar diaryku hingga kupikir dia akan berhasil membuatku menghabiskan buku diary hanya untuk menuliskan tentangnya. Lagu-lagu cinta yang mengalun indah seakan mengerti apa yang sedang kurasakan, bunga-bunga bermekaran dan yang kulihat hanya perasaan bahagia bahagia dan bahagia. Tapi aku tidak jatuh cinta padanya, aku hanya suka, sebatas suka.

Hingga akhirnya aku menemukan sebuah akun instagramnya dan kufollow dia. Betapa terkejutnya aku setelah mengikuti akun instagramnya, ternyata dia sudah memiliki tambatan hati. Dan aku. Aku sungguh amat bodoh. Aku tidak sadar bahwa laki-laki seperti dirinya mana mungkin masih lajang, tentu sudah memiliki seseorang yang amat dicintai dan mencintainya. Betapa sedihnya aku, ingin kucurahkan perasaan ini namun kutahan. Air mata tak ingin kukeluarkan dan memang ia tak berniat untuk keluar tapi pada saat aku berdoa pada Allah, air mataku ingin tumpah rasanya.

Dan sekarang aku sadar, betapa bodohnya aku yang pernah patah hati hanya karena perasaan suka dan lebih bodohnya lagi adalah aku seorang pengagum rahasia. Sungguh, aku sekarang sadar dan aku tidak ingin jatuh ke lubang yang sama. Aku mencoba untuk tidak memiliki perasaan suka lagi pada laki-laki yang seperti dirinya.


0 komentar:

Posting Komentar